Mengenal Six Thinking Hats Untuk Improvement

sixhats-1-2

Kita sering melihat orang-orang kreatif didalam lingkungan pekerjaan kita orang yang sering mengemukakan ide dalam sebuah meeting/ rapat yang disetujui setelah ide tersebut mengalami proses review, tantangan, dan kondisi-kondisi sebelum ide itu diputuskan bersama.

Bagaimana caranya?

Ternyata proses  pengambilan ide untuk improvement, melalui mekanisme Berpikir Kritis (critical  thinking). Berpikir kritis dimiliki oleh manusia yang sebagai pembawaan  manusia untuk berpikir jernih dan rasional. Kemampuan menganalisa fakta, mencetuskan dan menata gagasan, mempertahankan pendapat, membuat perbandingan, menarik kesimpulan, mengevaluasi argumen dan memecahkan masalah adalah bagian dari Berpikir Kritis didalam sebuah sesi meeting/ brainstorming. Berpikir Kritis berarti juga bersifat objektif dan rasional dengan penuh logika dalam menganalisa masalah. Seperti analogi ‘Mengapa AC split bocor diruangan?’, orang dengan berpikir kritis akan mencari sumber kebocoran, menganalisa dan membuat kesimpulan untuk perbaikan.

d266ee40ee75f4e3cce3b07d9efa0843

perbedaan mendasar antara orang dengan Berpikir Kritis dan orang Berpikir Kreatif

Berbeda dengan tipe orang selanjutnya yaitu Berpikir Kreatif (Creative Thinking), dan ini cara berpikir yang sedikit  lebih maju daripada Berpikir Kritis. Berpikir Krtis menemukan ide dan mengevaluasinya, tetapi Berpikir Kreatif mampu mengubah ide menjadi hal yang lebih baik ataupun mampu memecahkan masalah dari sudut pandang yang berbeda. Orang berpikir Kreatif tidak hanya problem solving tetapi juga mampu inovasi dari problem tersebut. Teknik pemecahan masalah orang Berpikir Kritis cenderung linear, berurutan, sistematis, rasional dan berorientasi pada tujuan. Sementara orang Berpikir Kreatif cenderung holistik, paralel, lebih intuitif dan emosional, kreatif, visual dan taktual. Jika dikatikan dengan lateralisasi otak, maka Berpikir Kritis didominasi oleh otak kiri (analitik, sekuensial, logis dan objektif), sedangkan dominasi Berpikir Kreatif ada di otak kanan (global, paralel, emosional dan subjektif).

Baik Critical maupun Creative Thinking keduanya diperlukan dalam proses brainstorming, sehingga keduanya merupakan cara berpikir yang saling melengkapi. Boleh dikatakan Berpikir Kritis merupakan proses yang konvergen mempersempit ide-ide baru sehingga ide terbaik yang dipilih dalam konteks tertentu. Sementara Berpikir Kreatif adalah proses divergen dimana ide-ide digenerate menjadi imajinasi atau alternatif ide , mencari hubungan antara unrelated concept dan bahkan mampu mendapatkan ide dari sudut pandang yang berbeda.

c0f4be66c55cd9d0df58ac0fb64fd588

proses berpikir kritis dan berpikir kreatif adalah proses yang saling melengkapi untuk mendapatkan ide-ide yang briliant

Contoh :

Kembali  ke kasus AC split bocor di ruangan. Ketika anda mengatakan bahwa penyebab AC tersebut adalah kurangnya perawatan yang menyebabkan filter AC kotor, ataupun freon habis, dan anda mengusulkan ide untuk melakukan checklist perawatan rutin AC. itu cara berpikir kritis. Dua minggu kemudian AC tersebut bocor kembali, fakta menunukan sudah dilakukan perawatan rutin AC dan checklistnya. Otak kanan anda mengenerate ide ‘bagaimana bila ditelusuri sumber penyebab kebocoran tersebut’. Ide nya adalah mencari penyelesaian masalah dari fakta yang bertentangan. Anda mulai menelusuri sumber kebocoran dan didapatkan bahwa kebocoran tersebut berasal dari tampias air hujan akibat talang air yang mampat oleh sampah-sampah dedaunan. Fakta ini anda analisis dan dengan menggunakan proses berpikir kritis anda memutuskan untuk menebang ranting-ranting pohon yang menyebabkan dedaunan jatuh kedalam talang air.

Mengapa sulit mencari solusi-solusi atas permasalahan yang terjadi didalam meeting ataupun brainstorming ? karena mungkin saja tipikal peserta meeting tersebut banyak menggunakan proses berpikir kritis (vertikal thinking) yang membahas suatu masalah menjadi suatu issue yang tiada henti terjadi, meskipun sudah memutuskan solusi tetapi hal tersebut muncul kembali sebagai masalah klasik.

adalah Dr. Edward De Bono yang menggagas Lateral Thinking dengan methode Six Thinking Hats sebagai tools untuk berpikir kreatif dalam menentukan suatu solusi yang out of the box. Menurut De Bono , ide-ide cemerlang itu muncul ketika menggunakan daya imajinasi, perasaan dan emosi tidak hanya berpaku pada logika saja. Dengan demikian Lateral Thinking membantu dalam proses menentukan ide-ide brilian anda dengan cara:

  1. Menyeleksi dan mendefinisikan fokus

pada tahap ini masalah, tantangan dan kesempatan didefinisikan . fokus diredefinisi secara hati-hati dan seksama

2. Mengenerate Ide

Mengelola ide untuk dirumuskan, ada beberapa tools seperti What If, Concept extraction challenge, random entry , provocation and movement.

3. Merangkumkan Ide

pengelolaan ide dari tahap 2, dicari manfaat-manfaat dan dirating agar konsep ide tersebut mampu terimplementasi.

4. Pemilihan Ide Terbaik

dari ide-ide yang sudah di treatment dan assessment, terpilihlah ide yang terbaik

 

Six Thinking Hats (STH) mengajarkan Lateral Thinking dengan cara meningkatkan kualitas daya berpikir  untuk menghasilkan sesuatu yang kreatif. Dengan metode ini seseorang tidak hanya dilatih berkonsentrasi untuk menyelesaikan masalah dalam waktu tertentu, tetapi juga mempersiapkan seseorang untuk dapat menerima dan menghargai pendapat atau ide orang lain. STH dapat digunakan baik individu ataupun group diskusi. Disini individu ataupun group memisahkan cara berpikir tentang sebuah topik kedalam 6 kategori. Setiap kategori diwakili dengan 6 warna topi yang berbeda. Dengan memakai topi dan berganti topi individu ataupun group dapat memfokuskan pemikiran kedalam topik pembicaraan. Dengan memakai topi individu ataupun kelompok memainkan peran dalam brainstorming suatu masalah dan menciptakan ide dari permasalahan tersebut.

the-six-thinking-hats

fungsi topi dan penjelasan topi dalam Six Thinking Hats

 

Penjelasan warna topi tersebut adalah:

  1. TOPI PUTIH – INFORMASI

Topi putih memfokuskan pada data yang tersedia dan data yang diperlukan. Melalui data dan informasi tersebut , kita dapat mempelajari dan menganalisa  situasi dan kondisi.

2. TOPI HITAM – RISIKO

Dengan mengenakan topi hitam kita belajar melihat sisi negatif / risiko dari keputusan yang akan diambil. Hal ini penting untuk menyiapkan contingency plan  dalam mengantisipasi kondisi darurat/ emergency sebelum memulai sebuah tindakan.

3. TOPI KUNING – MANFAAT

Topi kuning memungkinkan kita untuk berpikir positif/ optimis dan melihat seluruh manfaat dan nilai  / value added yang dihasilkan dari sebuah keputusan

4. TOPI MERAH – PERASAAN

Dengan menggunakan topi merah, kita memandang masalah dengan menggunakan intuisi, naluri dan emosi. Selain itu dengan mengenakan topi merah kita dapat melihat reaksi/ respon seseorang terhadap keputusan yang diambil.

5. TOPI HIJAU – KREATIFITAS (SOLUSI KREATIF)

Mengenakan topi hijau mendorong seseorang untuk mengembangkan daya pikir imajinatif, lateral dan out of  the box sehingga dapat  dihasilkan solusi-solusi kreatif dan benar-benar beda.

6. TOPI BIRU – PENGENDALI

Pemakai topi biru adalah personil yang ditunjuk untuk mengendalikan jalannya diskusi. ia bertindak sebagai pemimpin rapat/ meeting yang mengatur jalannya proses berpikir. Ia yang menentukan saatnya para peserta rapat/ meeting menggunakan dan mengganti topi-topi tersebut.

Menggunakan topi-topi tersebut anda memainkan peran dan menentukan pola berpikir sehingga dapat menghasilka ide-ide kreatif. Dengan tools ini didalam program improvement dan innovasi sebuah produk/ service dapat terwujud dengan menghasilkan ide yang out of the box.

@iguhrahman

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s